Senin, 30 Maret 2015

Kisah ku


Nama ku Alfin, Sesaat setelah aku lahir semua terlihat bahagia, terasa lengkap sudah yang selama ini mereka idam – idam kan. Aku terlahir di tengah – tengah keluarga yang sangat mengharapkan kehadiran ku, Ayah – Ibuku, Kakek - nenek ku, Om – tanteku, juga  keluarga – keluarga ku yang lain.


Aku tumbuh normal seperti anak – anak lain dilingkungan ku, aku dirawat, dijaga, diperhatikan dilindungi,  bahkan mereka terkesan memanjakan ku.
Maklum aku adalah buah cinta pertama mereka.

Ayahku seorang Perwira Polisi, dimana sebagai seorang Polisi masih menjadi sesuatu yang agung di kampungku, apalagi ayah ku adalah seorang polisi yang “bersih” sehingga semua segan dengan keluarga ku.

Aku empat bersaudara, Ayah sengaja memberi nama kami sesuai urutan abjad Alfin, Bertha, Charles, Dessy  “supaya mudah untuk mengingat...” katanya.
Saat aku berumur  4 tahun Ibu melahirkan seorang bayi perempuan, ayah memberinya nama Bertha.
Ayah sangat menyayanginya, ayah juga memanjakannya.
Setelah kelahira Bertha semua berubah, entah berawal dari mana yang jelas pertengkaran sering terdengar dirumah ini.
Teriakan, tangisan, sumpah serapah dan entah apalagi yang terlontar dari mulut ibuku seakan tak membuat ayah ku jengah berada disisinya,
Aku tak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi, yang kutahu ayah dan ibu tak semesra dulu lagi.

Umur ku 11 tahun saat Charles terlahir, ibuku sudah tak seperti dulu lagi, ibu sudah tak memperhatikan penampilan apalagi merawat diri, sering kudengar ibu bernyanyi – nyanyi sendiri, ngomong – ngomong sendiri, dan sering kali melakukan hal – hal diluar dugaan.
Saat itu aku semakin yakin bahwa apa yang diucapkan tetangga kanan – kiri benar, bahwa ibuku GILA.
Aku tersentuh, terus terang saja aku tidak bisa menerima keadaan ini, aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa ibu yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan ku telah berubah jadi orang yang kehilangan akal, aku tidak bisa menerima kenyataan pahit ini.
Aku ingin menangis dan berteriak pada dunia dan mengatakan bahwa ibuku tidak gila, tapi aku tak bisa...,perilaku ibu ku sudah diluar akal sehat, dan semua orang sudah memfonisnya GILA.
Aku ingin marah, tapi aku tak tahu harus marah pada siapa karena aku tak tahu penyebab utama nya.
Aku hanya bisa diam, menangis,  bersedih dan menerima begitu saja ucapan teman – teman ku bahwa aku adalah anak orang gila.
Sejak saat itu aku mengasingkan diri dari teman – teman dekat ku, aku memilih sendiri karena aku tidak mau dianggap sebagai aib oleh mereka.
Bertha adikku memilih untuk menjauh dari ibuku, karena ia malu mengakui ibu ku yang kurang waras.
Oh Tuhan, jika adikku merasa malu, dan aku merasa kecewa lantas bagaimana dengan Ayah ku, aku yakin Ayah paling menderita dibanding semuanya, aku juga yakin Ayah lebih tidak terima karena melihat satu – satunya wanita yang dicintainya  berubah jadi wanita yang sangat mengerikan.


Waktu terus berjalan , tapi ibuku tak kunjung sembuh.
Terus terang saja aku lebih memilih menghindari pernikahan karena aku yakin calon istriku dan keluarganya tidak akan mudah menerima ku dan keluargaku.
Sebenarnya aku ingin menikmati indahnya masa muda, indahnya dicintai dan mencintai, tapi apa daya aku hanya seseorang yang memiliki banyak kekurangan, kualihkan keinginanku itu dengan kesibukan – kesibukan rumah tangga, kugantikan posisi ibuku untuk merawat adik – adik ku, menyediakan makanan buat mereka, mencuci baju, piring, membersihkan rumah, merawat dan  memandikan ibuku, dan masih banyak hal – hal lain yang bisa kulakukan.

Air mataku menetes saat aku merawat ibu, entah kenapa aku sendiri tak tahu, aku merasa telah banyak berdosa pada ibu, rambutnya yang mulai memutih kusisir dengan lembut, tangan nya yang mulai keriput kuusap dengan lotion, aku ingin memeluk ibuku dan kubisikkan kata – kata indah yang bisa membuatnya terhibur.
Tapi aku tak kuasa melakukannya, air mata ini seakan terlepas dari bendungannya, kuperhatikan adik ku yang masih kecil mereka sangat membutuhkan sosok seorang ibu, sosok yang penuh kehangatan, sosok yang penuh kasih, sosok yang santun dan ramah dalam setiap keadaan.
Aku segera menyudahi tugas ku merawat ibu, aku tak mau larut dalam pikiran ku aku harus kembali tegar untuk adik – adikku.
Kukorban kan segalanya, masa depan ku, sekolah ku, kehidupan ku demi Ayah, Ibu, Adik dan keluarga yang sangat aku cintai dan aku kasihi, Aku merasa masa depan ku masih panjang, langkah seorang pria jauh lebih panjang dan aku yakin pada saatnya nanti aku bisa mewujudkan mimpi dan harapan ku yang sempat tertunda.

9tahun kemudian ibu melahirkan seorang adik perempuan buatku, cantik, lucu dan menggemaskan itulah salah satu yang bisa menghibur ibuku dan mengembalikan keceriaannya.
Adik ku yang satu ini diberi nama Desy, nama yang cantik persis dengan paras nya.
Ibu merawat Desy dengan tangan nya sendiri, meski kadang – kadang aku membantunya tapi ibu lebih banyak berperan di banding aku.

Dengan lahirnya Dessy Aku merasa betapa Ayah masih sangat menyayangi ibu, meski dalam keadaan kurang waras ayah masih selalu ada buat Ibu.







0 komentar :

Posting Komentar