Perayaan peringatan hari ulang tahun Republik Indonesia dikampung ku tahun ini tak semeriah tahun – tahun sebelumnya.
Hanya beberapa lomba untuk anak – anak, entah kas nya yang kosong ato karena katarnya yang males aku tak tahu yang jelas aku pasti tak akan dapat piala tahun ini.
Tak seperti biasanya pak Rw datang kerumah ku ( pasti ada apa – apa pikirku ), langsung saja kubrondong dengan berbagai pertanyaan agar beliau segera buka mulut, penasaran juga rasanya kalo harus nunggu terlalu lama.
“ Anu dek non.... ( warga luar RT ku selalu memanggilku dengan sebutan itu, gak tau siapa yang pertama kali mempopulerkan nama itu tapi yang jelas nama itu jadi familiar di telinga ku ), ada undangan untk dek non monggo di baca dulu....”
Ucap pak RW seraya menyerahkan selembar amplop pada ku, dari mana pikir ku....? tapi belum sempat bertanya amplop tsb telah kubuka, perlahan kubaca isinya.
“Maaf pak, kok saya gak ngerti maksudnya ya....?”
“Dibaca dulu pelan – pelan dek non nanti dek non pasti paham maksud dari surat tsb “
“Saya sih tau isinya, mungkin tau juga maksudnya, yang jadi pertanyaan saya apa hubungan nya dengan saya ?, lagi pula dalam surat ini tidak disebutkan kalo surat ini ditujukan kepada saya”
“iya dek non, memang sebenarnya surat ini untuk RW, tapi untuk di teruskan kewarga, masak iya saya yang harus ikut lomba itu apa kata warga saya nanti...”
Ucap pak RW sambil tersenyum manis
Ternyata manis juga kalo pak RW ini tersenyum pantas saja ibu – ibu PKK dan adek – adek karang taruna kesengsem sama beliau.
“Lalu hubungannya dengan saya apa ya Pak...?, kok saya merasa gak tepat sasaran saja...”
“Anu dek non, maksud saya...setelah berembuk dengan staf RW kami memutuskan untuk mengirim dek non mengikuti lomba tersebut...”
“Saya....?, gak salah pak....?”
“Enggak dek non, keputusan ini murni 100% benar...”
“Maaf pak RW kalo saya menyela, ini bukan lomba masak, ato lomba karaoke, atau membuat kerajinan seperti yang sudah – sudah, tapi ini lomba lari dan saya tidak punya keahlian untuk itu Pak, jangan kan lari untuk berjalan jauh saja saat ini saya sudah ngos – ngosan apalagi lari bisa mati dijalan nanti...”
“ah dek non bisa saja, nggak sampai segitunya kali....”
“ya ibaratnya Pak....”
“Begini dek Non, kenapa kami memilih dek non untuk mewakili wilayah kita, itu pertimbangannya banyak sekali lho dek non, dek non sudah banyak dikenal di wilayah kecamatan, reputasi dek non sudah gak bisa diragukan lagi, fansnya dek non pasti sudah lebih dari 75% di wilayah kecamatan kita ini, trus kurang apa lagi coba deknon pikirkan...!”
“Pak RW, ini bukan pilgub atau memiliih wakil rakyat, tapi ini lomba lari, pamor gak ada efeknya di lomba lari, fans apalagi, tapi yang dibutuhkan adalah skill dan daya tahan tubuh sampai seberapa kuat kah saya bisa lari dan seberapa cepatkah lari saya itu yang penting, dan saya sadar sesadar – sadarnya bahwa saya tidak memiliki ke duanya, bahkan sebagai calon peserta lomba lari saja saya tidak memiliki sepatu olah raga, masak iya saya harus lari pakai hak tinggi atau klompen kan gak lucu...”
“kalo masalah itu dek non tenang saja, menang atau kalah bukan jadi masalah bagi kami, asal dek non mau ikut berarti wilayah kita telah ikut berpartisipasi dalam perayaan peringatan 17 agustusan dengan mengirimkan delegasi mengikuti lomba tersebut, kalo masalah sepatu dan lain – lainnya dek non tinggal bilang saja yang dibutuhkan apa kita beli sama – sama..., bagai mana dek non...?”
Waduh ternyata pak RW ini mengerti banget kelemahan ku, aku memang punya jiwa nasionalis yang sangat tinggi jadi jika seseorang mengatakan berpartisipasi untuk peringatan kemerdekaan aku pasti seperti kerbau yang di tusuk hidung nya
“iya lah pak RW, dengan sangat terpaksa saya mau ikut, tapi saya mohon jangan mengharapkan kemenangan dari saya, tapi yang jelas saya akan berusaha semampu saya untuk memberikan hasil yang terbaik, jadi kapan kita beli perlengkapannya...?”
“bila perlu sekarang kita berangkat ke toko”
“ jangan sekarang pak saya belum ijin suami, lagi pula kalo saya pergi berdua dengan pak RW yang seneng pak RW bisa jalan dengan daun muda, cantik lagi...”
“ah dek non ngerti aja, ya sudah saya tunggu kabarnya secepatnya ya dek non soalnya lombanya kurang 4 hari lagi, ya sudah kalo begitu saya pamit pulang dulu saya tunggu kabar baik nya ya dek non...”
“iya pak terimakasih”.
( Hari H )
Semua sudah siap, saking semangatnya aku sampai gak tidur takut bangunnya kesiangan, sepatu baru, baju olah raga baru, topi baru, handuk baru, semua siap dengan sempurna, yang belum siap Cuma satu latihan ku kurang, atau bahkan bisa dibilang gak pernah latihan sama sekali....
Hari ini suamiku gak ikut, ada tugas luar kota katanya, padahal aku berharap banget kalo suamiku bisa ikut karena kalau ada apa –apa nya kan enak tinggal digendong aja, tapi ya sudah lah gak papa yang penting dukungan dan do’a dari suami ku.
Belum sempat aku mandi, aku mendengar ada yang memanggilku di luar, cepat – cepat ku buka pintu rumah ku, ternyata pak RW dan beberapa RT
“bagaimana dek non, sudah siap kita berangkat sekarang yuk...”
“maaf pak, ini saya baru mau mandi...”
“o ya sudah kalau gitu mandi aja dulu nanti kita berangkatnya sama – sama, o iya dek non ini ada titipan salam dari pak camat”
“apa ini pak...? kupon....”
“iya, nanti disana ada doorprice nya juga, ini yang satu bendel dari pak camat, yang satunya lagi dari saya...hehehehehe”
“wah suap ni....?”
“ah dek non ini bisa saja, klo yang dari pak camat ini memang semua peserta dapat, tapi kalo dari saya ini hasil patungan saya dan bapak – bapak RT, ya sekedar ucapan terimakasih karena dek non bersedia mengikuti acara ini....”
“o kirain...., ya sudah pak ntar keburu siang saya permisi mandi dulu ya pak...”
Akhirnya kami pun berangkat bersama – sama ke tempat acara lomba berlangsung, di luar dugaan ternyata yang datang cukup banyak.
Karena terlalu banyak penggemar begitu turun dari mobil aku sudah di sambut teriakan – teriakan
“dek non...dek non...dek non....”
“mbk non...mbak non...mbk non...”
Entah sebutan apalagi yg jelas aku sudah merasa kikuk, aku jadi merasa kalah sebelum bertanding.
Sambutan masyarakat yg diberikan kepada ku seakan terlalu banyak, sementara peserta – peserta yang lain sepi dari sorakan – sorakan, tak ayal lagi ada beberapa peserta yang sangat sinis melihat ku.
Kusalami satu persatu peserta lomba lari hari ini, maksudnya sih Cuma biar gak canggung dan gak ada jarak pemisah saja antara kami, aku pun mulai membuka pembicaraan dan ngobrol bersama mereka.
Waduh kasihan banget, terlihat sekali kalau mereka sangat tegang mengikuti lomba ini, sebenarnya aku juga sih, hanya saja aku lebih bisa menguasai keadaan ketimbang mereka, nilai lebih lah buat ku.
Tiba saat nya acara dimulai, sambutan dari walikota dan beliau memperkenalkan satu – persatu peserta lomba menandai bahwa lomba lari akan segera dimulai.
Kami segera mengambil posisi, terus terang saja aku merasa bahwa ini bukan tempat ku, kuperhatikan peserta – peserta yg lain mulai melakukan pemanasan, sementara aku..., aku hanya mengedarkan pandangan ku ke sekeliling lapangan memperhatikan mereka satu persatu tanpa melakukan sesuatu yang berhubungan dengan lomba ini.
Tiba – tiba semua peserta mulai lari, aku tertegun sejenak dan bertanya dalam hati “apa yang sebenarnya mereka lakukan....?”
“Ayo dek non...waktunya lari sekarang......”
Aku mendengar beberapa teriakan, dan terdengar sangat memekakkan telinga, aku berusaha lari menghindari suara – suara itu, tapi suara itu terus mengejarku, aku berlari tanpa memperhatikan apa yang ada di sekelilingku, aku hanya bisa mendengar gemuruh tepuk tangan dan sorakan – sorakan dari penonton yang mengelilingi lapangan, selebihnya aku tak tahu apa yang telah terjadi.
“Dik...dik...adik...bangun”, perlahan aku mendengar suara suami ku, “ah syukurlah kamu tidak apa – apa...” katanya.
Apa maksudnya...? kuperhatikan sekelilingku, tapi aku yakin seribu kali jika ini bukan lah rumah ku
“Bukannya mas luar kota, kok ada disini...?” tanya ku pada suami ku
“ini dimana, kenapa aku ada disini.....?” tanya ku lagi
“Sudah gak papa, sekarang kamu ada di rumah sakit..........”belum selesai suami ku bicara aku sudah memotong pembicaraannya
“rumah sakit...........?”
“iya, saat dilapangan kemarin kamu jatuh dan pingsan, pak RW yang merasa bertanggung jawab bingung gak tahu apa yang harus dilakukannya, untung saja beliau punya inisiatif untuk menelpon aku, begitu aku tahu kabar mu dari pak RW aku langsung bertolak ke surabaya, terus terang saja aku juga agak khawatir, karena kamu pingsan cukup lama juga, 2 hari...bayangkan saja tapi yang lebih stres dibanding aku ya pak RW, beliau merasa salah karena telah memaksa kamu untuk mengikuti lomba tersebut, tapi untunglah semua sudah berlalu, dan kamu berhasil membawa pulang piala dan gelar JUARA I”
“ah si Mas bisa saja, bagaimana mungkin aku bisa bawa piala wong aku pingsan, aku aja di bawa orang lain bagai mana mungkin aku bisa membawa piala.....”
“kamu memang gak membawa pialanya, yang menerima ya pak RW harusnya sich kamu yang terima tapi kamu kan gak mau terima dengan alasan pura – pura pingsan, jadi diwakilkan ke pak RW, begitu ceritanya dek non......”
“ah si mas genit ah, ikut – ikutan manggil dek non...., yang jelas aku gak percaya sama ucapan si Mas titik....”
Dengan gemasnya suamiku membalikkan tubuhku untuk melihat ke arah meja
“tuch buktinya....benerkan....siapa yang bohong...”
Ah Subhanallah...Piala, seakan tak percaya aku pun menuruni tempat tidur menuju piala yang berada di atas meja kubaca pelan – pelan sekali tulisan nya karena takut salah
JUARA I LOMBA LARI UNTUK MEMPERINGATI HUT RI 67 – WALIKOTA SURABAYA

0 komentar :
Posting Komentar